(1)
Kasih, jerit jiwa ini lantaran
rindu mengakibatkan gemuruh kegelisahan, passalnya tiada obat yang menjadi penawar selain pertemuan walau
sekejap mata, namun bilakah gerangan yang maha Kuasa mempertemukan kita dalam
satu buaian tangis pertemuan, sementara hati q sll cemburu dengan perkataan yang
tak terkendalikan oleh asmara.
(2)
Apakah kau belum tahu, rebana
kerinduan yang aku tabuh dengan iringan seruling syahdu, mengukir wajahmu bak
lembayung jingga, pagi tadi sebelum aku mengakhiri pengembaraan di alam
fantasi, apakah kau belum tahu, seringkali aku menyebut-nyebut namamu, apakah
kau belum tau, masih basah tinta yang aku lukiskan di hati ini, namun kau masih
belum saja melirik lukisan itu, apa perlu aku berteriak disetiap ada keramain
sekedar memberi tahu semua orang tentang perahu yang aku layarkan kedermagamu.
(3)
Sebentar
lagi kita akan berlabuh dan mengandaskan perahu di lautan idul adha, sangatlah
mungkin segala tingkahku, pembicaranku, maupun gerak-geriikku yang penuh dengan
duri kemarung, tentu melukai perasaanmu, hingga sebelum ajal menjemputku, dan
masih ada buih kesempatan yang terpatri dalam hidupku, sekalipun kita tak dapat
mengayunkan tangan, tak dapat memadukan wajah, namun tetap saja jiwaku
mengintip wajahmu dari kejauhan, dan dirimu aku titipkan kepada tuhan agar kau
selalu tetap dalam lindunganNya. Sebelum aku akhiri kata-kat ini idzinkanlah
aku tembangkan maaf kepadamu atas segala kesalahanku, maafkan aku cinta tak
dapat menemuimu.
(4)
Wahai perempuan yang paling aku
cintai, jika cintaku padamu membuatku sakit maka tidak akan aku mengobatinya
sebab dengan sakit itu aku bahagia, jika aku sakit sebab rindu padamu maka aku
tidak akan mengobatinya sebab dengan rindu aku selalu mengingatmu,jika aku
sakit sebab sayang kepadamu maka aku takkan mengobatinya sebab dengan sayang
kepadamu hatiku merasa tentram, karena ada yang menemani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar