Kamis, 13 November 2014

Essena ate


(1)

Kasih, jerit jiwa ini lantaran rindu mengakibatkan gemuruh kegelisahan, passalnya tiada obat  yang menjadi penawar selain pertemuan walau sekejap mata, namun bilakah gerangan yang maha Kuasa mempertemukan kita dalam satu buaian tangis pertemuan, sementara hati q sll cemburu dengan perkataan yang tak terkendalikan oleh asmara. 
(2)

Apakah kau belum tahu, rebana kerinduan yang aku tabuh dengan iringan seruling syahdu, mengukir wajahmu bak lembayung jingga, pagi tadi sebelum aku mengakhiri pengembaraan di alam fantasi, apakah kau belum tahu, seringkali aku menyebut-nyebut namamu, apakah kau belum tau, masih basah tinta yang aku lukiskan di hati ini, namun kau masih belum saja melirik lukisan itu, apa perlu aku berteriak disetiap ada keramain sekedar memberi tahu semua orang tentang perahu yang aku layarkan kedermagamu.

(3)

Sebentar lagi kita akan berlabuh dan mengandaskan perahu di lautan idul adha, sangatlah mungkin segala tingkahku, pembicaranku, maupun gerak-geriikku yang penuh dengan duri kemarung, tentu melukai perasaanmu, hingga sebelum ajal menjemputku, dan masih ada buih kesempatan yang terpatri dalam hidupku, sekalipun kita tak dapat mengayunkan tangan, tak dapat memadukan wajah, namun tetap saja jiwaku mengintip wajahmu dari kejauhan, dan dirimu aku titipkan kepada tuhan agar kau selalu tetap dalam lindunganNya. Sebelum aku akhiri kata-kat ini idzinkanlah aku tembangkan maaf kepadamu atas segala kesalahanku, maafkan aku cinta tak dapat menemuimu.
(4)


Wahai perempuan yang paling aku cintai, jika cintaku padamu membuatku sakit maka tidak akan aku mengobatinya sebab dengan sakit itu aku bahagia, jika aku sakit sebab rindu padamu maka aku tidak akan mengobatinya sebab dengan rindu aku selalu mengingatmu,jika aku sakit sebab sayang kepadamu maka aku takkan mengobatinya sebab dengan sayang kepadamu hatiku merasa tentram, karena ada yang menemani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar