Kamis, 13 November 2014

Derai air mata


(5) 
Tak kurasa derai air mata akibat jerit jiwa dihempaskan oleh kerinduan, Subhanallah Tabarokallah Maha suci Allah. Indah sekali wajahnya, indah sekali kerudungnya, indah sekali senyumnya, indah sekali kepribadiannya, indah sekali tutur katanya , semua ini telah terpaku dalam hati membuat kenangan yang teka mungkin terhapus oleh masa.

(6)

Kasih saat aku rapuh merentang kaku, tiada yang mampu mengatup sendu selain suaramu yang merayu-rayu, aduhai suara yang lembut mengalun syahdu diantara kegelisahan,menggubah suasana sunyi menjadi geli, lantaran pendar kerinduan mengakibatkan jerit jiwa.

(7)

Kasih taukah kau? sebelas menit yang lalu kapal masih merapat di dermaga, sebela  menit yang aku masih merasakan udara sejuk kangean, sebelas menit yang lalu jiwaku masih bimbang untuk melangkahkan kaki dari pulau tercintaku kangean, sebelas menit yang lalu aku pasrahkan kebimbangan jiwa ini untuk mengarungi keletihan badai haruku, sebelas menit yang lalu akupun mengakhiri pembicaraan jiwaku dengan sebait do’a menaiki kendaraan air.
  
(8)

Ketauhilah inilah perjalananku menunggangi hasrat yang terlunta-lunta dalam kehawatiran, tak ada jalan yang terang melebihi pertemuanku , rembulan mengarat di ambang kegaduhan , kaukah payung dikala hujanku,kaukah rembulan dikala malamku, kaukah tangis dikala sedihku, kaukah tawa dikala gembiraku. Atau semua ini hanya hayal yang bersemayam dalam sadarku, hari ini adalah hari pertemuanku dengan perpisahan, hari ini adlah hari perpisahanku dengan pertemuan,  akankah engkau merindu jika aku tinggalkan, akankah engkau datang jika aku merindukan.
(9)

Dihari yang bahgia ini karena kicau syahdu yang bersarang dalam jiwa kini sudah menetas akibat gaduh tabuhan beduk dan lantunan takbir diiringi dengan jingkrak orang-orang kemajid, tiada yang cemberut, tiada yang mengerut, semua mengumbar senyum untukbermaaf-maafan, maka dihari yang penuh kegembiraan ini izinkanlah aku hamburkan kata-kat yang berisi maaf atas segala dosa dan khilaf.
(10)

Setes kesturi yang pernah engkau tebarkan, kinni aromanya muali tercibir oleh kegelisahan yang tak menentu,sementara hati enggan menerima hal itu, akupun tak bisa mengukir kembali dawai kelana indah perjumpaanku denganmu, khawatir kebinasaan merenggut kesetiaanku padamu, aku bersumpah kalau saja engkau mau aku persunting dan aku pinang dengan cinta yang menggebu-gebu di dasar jiwa ini, alangkah pendar semua kerisauan, alangkah musnah semua kegelisaha yang terus membuntutiku.

(11)

Alangkah indah alunan lagu yang dinyanyikan oleh burung-burung laksana aluna lagu yang dinyanyikan oleh jiwaku semenjak aku mengenalmu dan mulai ada ruang khusus dibalik hatiku, yang menyiapkan tempat berlabuh cintamu hingga aku bangga memiliki tamu seistimewa dirimue kasih dan bilik khusus itu sudah aku taburi kembang agar menyeruakkan aroma disetiap hembusan nafas.
(12)

Laksana letupan syahdu bersarang pada jiwa menitikkan sekeping harmoni dawai cinta menjerat ruang dan waktu yang terkapar pada lumbung hati nan sejahtera karena syahadat cinta ini tak perlu kulukis pada tangkai dan perjalananku menelusuri kepiluan, wahai dunia yang telah menitipkan perhiasan di dalam hati hingga kebahagiaan ini tak terbayar sekalipun dengan segunung mutia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar